Nova

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

Episod Fathan Bertanya bundo Menjawab; Sampai Di Payakumbuh

Habis makan kerupuk, kami melanjutkan perjalanan ke rumahnya Bundo. Dalam perjalanan menuju Payakumbuh, ternyata selepas IPDN-Baso, terjadi kemacetan panjang, tentu dong pertanyaan kembali hadir, ada apa? Kenapa macet? Dan titiknya dimana? Karena aku bertanya sekaligus maka Bundo menawarkan idenya lagi, ide di luar dugaanku yaitu menelusuri jalan sedikit berlobang dan terjal, kami cari di mana letak titik kemacetannya.

Hehe..kalau di kasihkan ke pada Bundo honda gede, wih pasti deh dah ngebut melulu, tapi honda bundo kali ini tak bisa ngebut, namun pelan sekali, kayak jalannya nenek yang pakai tongkat, terus berhati-hati sekali karena berjalan di tepi bandar, kalau tidak hati-hati wah bisa nyemplung ke dalam. Lumayan jauh, dan akhirnya kami menemukan titik macet. Ada perbaikan jalan sepanjang lebih kurang satu kilo, ada eskavator besar, dan jalannya sedang di garuk kira-kira tiga puluh meter, kalau di isi air bisa kayak kolam ikan di rumahku.

Kata Bundo itu juga merupakan salah satu agenda dari pemerintah setempat sebelum Ramadhan dan lebaran, jadi kalau perantau pulang dan juga kita-kita yang ada di kampung, mau ke kampung halaman, jalan jadi lancar, tidak berlobang dan mengurangi angka kecelakaan lalu lintas. Sebab dalam pandangan Bundo kendaraan jenis honda lebih banyak dari pada kendaraan mobil, ataupun sepeda.

Dalam pikiranku di Payakumbuh kalau sudah malam, pasti kondisinya sama dengan Bukittinggi. Jam Sembilan malam semua warung sudah mulai ansur-ansur tutup, kecuali kalau ada perayaan, itupun di batasi sampai jam sepuluh malam. cerita ini ku dapat dari cerita Om Dangku yang jualan di pasar Bukittinggi.

Waw.. ternyata lagi-lagi pikiranku salah..hmmm kalau aku main game nih, sering kalah, karena dugaanku selalu meleset. MasyaAllah ramenya di kampung Bundo. Ini kan sudah pukul sembilan malam, kok masih ramai ya, ada kegiatankah, atau ada pesta rakyat, atau ada apa ya kok belum juga tutup. Wah.. banyaknya kafe-kafe, restoran, dan kerlap-kerlip lampu di tengah pasar. Hmm ternyata Bundo memperhatikanku sepintas dari kaca spionnya karena wajahku seolah-olah bertanya, Bundo menjelaskan bahwa;

Payakumbuh ini termasuk wisata kuliner Do, masyarakat mulai jualan pukul empat sore hari dan tutupnya pukul lima dini hari. Jadi nyaris 24 jam tambah sedikit.”

“Pantasan setiap Bundo pulang ke Bukittinggi ada-ada saja makanan dan jajanan anak-anak yang membuat kami suka.”

Lagi pun Payakumbuh adalah jalan satu-satunya lintas provinsi yang menghubungkan Sumbar-Riau dan daerah lainnya. Jadi tak heran kalau sudah malam ini, mobil besar-besar berenti membeli makanan. Dan kata pelancong dari mana saja yang hendak ke kampung Bundo ini, jangan khawatir jika berkunjung ke sini, perut bakalan tidak akan keroncongan, justru sudah kenyang terlebih dahulu oleh aromanya yang menyapa tiap pengunjung. Lezat.

Ada Sepeda Ontel di Bypass, ada Piala Adipura di bekas Jam Mini di tengah pasar. Luar biasa ramainya. Jarak antara pasar ke rumah Bundo mencapai lebih kurang 29 menit, itu pun sudah lewat gang kucing, kelinci dan gang kerbau. Sengaja ku sebut jenis hewan itu karena ya hewan itu yang ku lihat di setiap gang. Tapi kata Bundo ini namanya Padang Kaduduak yang ada pasar barunya yaitu pasar rakyat nantinya, menuju jalan baru tembus ke simpang Taratak dan di lanjutkan ke Payonibuang sebelum Talawi yang ada Bentolnya.

“Ha..Bentol? apatu Bundo? Bekas digigit nyamuk atau apa? Namanya aneh hi..hi..”

“No seriuslah Do.. he he Bentol itu singkatan dari panorama baru yang disebut dengan Bendungan Talawi, di sana ada air gilo.

Ha? Gilo? Air? Maksudnya Bundo?”

“Dua kosong, Udo kena lagi… maksudnya adalah disana kan bendungan air, jadi ada sistim buka tutup air, kalau disatu pintu air itu keluar memutar seakan akan seperti mengamuk kayak orang gila yang ngamuk pada masyarakat yang sering dia sebut gila”

“Oh.. ada-ada saja sebutan disini, sesuai dengan apa yang dilihat dan dirasakan.”

Tak terasa aku dan Bundo telah sampai di rumah, ternyata Om belum ada di rumah. Anehnya dalam jam tangan Bundo sudah pukul sembilan, tapi di jam dinding Bundo baru pukul delapan. Ha..haa ternyata jam tangan kesayangan Bundo mati. Pantasan masih ramai di pasar Payakumbuh. Kata Bundo, Om pulang setelah selesai shalat dan mengaji di rumah Nenek, semenjak Atuk meninggal, Nenek begitu merasa kesepian, karena Atuk dan Nenek selalu bersama-sama pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Jadi yang menggantikan Atuk sekarang adalah Om, karena jarak antara rumah Bundo dengan Nenek kira-kira lebih kurang 100 meter.

Tak lama berselang, sesudah Bundo menelpon Om, dengan suara motor King yang khas, akhirnya Om datang. Aku berlarian mengejar Om, dan salam. Aku di peluk Om, sama saat Om memelukku tiga tahun yang lalu. Bundo juga salaman sama Om, dan mengatakan maaf kami telat pulang. Kita melanjutkan ke dapur, kami makan apa adanya dengan sambal ikan goreng, sayurnya mentimun. Dalam kesederhanaan kami makan. Sambil makan seperti biasa, Bundo bercerita berapi-api menyebutkan kemacetan, tentang ikan dan kondisi adik-adik yang menangis ingin ikut ke Payakumbuh. Ada gelak tawa, canda tawa, dan ada tasbih terbesar dan terpanjang yang kulihat, juga peliharaan Bundo yang menakutkan yaitu sarang Tawon yang makin membesar.

Suasana rumah Bundo dekat dengan jalan raya, dan dipinggir pesawahan. Adem, dingin, dan asyik. Aku suka di sini. Selepas makan, aku keruang depan, ada bacaan yang membuatku menarik. Aku suka buku, suka baca dan suka hal-hal yang menantang. Bundo membiarkanku melepaskan lelah sejenak, sebelum aku sholat dan mengaji. Empat cerita pendek anak telah selesai ku baca. Nah Bundo memberitahu bahwa aku tidur di kamar yang satunya, kamar yang biasa di pakai Bundo untuk mengoleksi bukunya, alias pustaka mini.

Alhamdulillah, hatiku berkata yes.. suatu impian yang telah terwujud, akhirnya aku tidur di pustaka banyak buku yang keren untuk ku baca ntar malam, saat Bundo dan Om telah tidur.

Shalat Isya sudah, dan di lanjutkan mengaji. Om juga begitu sama Bundo, sebelum tidur Om mengajinya lama sekali, mungkin satu malam itu satu juz, lain halnya dengan Bundo. Aku tidak melihat Bundo pegang mushaf, tapi mulutnya mengaji di atas sajadah, bisa jadi Bundo lagi menghafal apa yang telah Bundo hafal.

Terbersit dalam hatiku “Ya Allah berilah kebahagiaan kepada Om dan Bundo, mereka begitu takut padaMu, dan berikanlah mereka anak, yang nantinya akan menjadi adikku, dan malam ini aku merasakan akulah anak Om dan Bundo selama satu minggu” aamiin.

Bundo terhenti sejenak, dan kembali melihatku ke kamar, menanyakan, apakah Udo kedinginan? Dan apakah di tambah selimutya?. Aku tersenyum saja, dan mengatakan cukup Bundo. Dan kiranya Bundo membuatkan aku susu untuk Om dan untuk Bundo. Setelah di buat, di kasihkan samaku, dan Bundo serta Om mengatakan “Maaf lahir batin ya Do, nanti kalau ada yang di perlukan ketuk saja pintu kamar Bundo ya. InsyaAllah esok hari adalah hari paling baik dari hari sekarang Assalamu’alaikum.”

“Ok.. Bundo, Om… Dohan juga minta maaf. Wa’alaikumussalam.”

Bundo kembali kekamar, dan melanjutkan mengajinya yang sempat terputus tadi. Om begitu juga. Tapi aku tidak tahu sudah jam berapakah hari. yang jelas malam ini adalah malam bahagia untukku, karena satu impian ingin tidur di pustaka sudah Allah kabulkan. Walau di rumahku lebih banyak jumlah bukunya di bandingkan buku Bundo. Tapi aku bahagia. Alhamdulillah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali